Pengertian Jilbab dan Kerudung

Pengertian Jilbab dan Kerudung

Jilbab seringkali disebut dengan istilah kerudung. Namun, kata jilbab sekarang lebih populer di telinga masyarakat. Jilbab asalnya dari bahasa saudi arabia yakni Jalaba, yang bermakna membawa , menghimpun. Itu berarti menghimpun sesuatu yang terlepas. Secara istilah sekarang ini, jilbab atau kerudung ialah salah satu busana yang dikenakan oleh wanita beragama Islam, yang berfungsi untuk menutupi bagian kepala dan dada. Busana semacam ini ada ketika sebuah perintah datang melalui Nabi Muhammad saw. ditujukan oleh semua wanita-wanita muslimah. Waktu itu dikenal dengan istilah khumur atau hijab (penghalang)

pengertian jilbab

Negara-negara yang kebanyakan memeluk agama Islam juga memiliki sebutan sendiri-sendiri. Misalnya nama chador, dipakai di Negara Iran, Pardeh (Pakistan dan wilayah India), orang-orang Libya menamainya dengan Milayat, Wanita Iraq menyebutnya Abaya, Charshaf (Republik Turki), kalau awek-awek Melayu mengenalnya dengan istilah tudung. Sedangkan untuk Arab sendiri menyebutnya hijab. Dan kerudung / jilbab digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Khusus Negara Indonesia, istilah "jilbab" diartikan sebagai pakaian wanita yang dikenakan dengan menutup semua kepala kecuali muka kemudian dirangkaikan bersama baju agar semua badan tertutup kecuali tangan dan kaki. Sedang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan dengan kerudung berukuran lebar dikenakan seorang wanita muslimah guna menutupi kepala dan leher hingga dada (agar tidak terlihat lekukan-lekukannya).

Cara memakai jilbab secara umum sebenarnya di kalangan ulama sendiri terjadi ikhtilaf atau perbedaan pendapat. Hal ini biasa karena setiap ulama memiliki pandangan sendiri dalam menafsirkan dalil-dalil. Misalnya Ibnu Ma’ud, penggunaan hijab adalah dengan menutup semua kepala termasuk muka kecuali satu mata saja. Menurut Qatadah, yang ditutup adalah semua kepala dan muka kecuali dua mata seperti yang sering kita lihat wanita-wanita bercadar sekarang ini. Beda dengan Al-Hasan, tidak semua muka ditutupi, tetapi hanya separuh saja.

Lain halnya dengan ulama’ kontemporer yang juga terkenal, beliau adalah Dr. Yusuf Qardlawi. Fatwanya, muka atau wajah serta telapak tangan seorang perempuan tidak perlu ditutup, karena itu bukanlah aurat. Jadi, tidak masalah jika terlihat oleh kaum laki-laki yang tidak muhrimnya. Pendapat ini juga sama dengan pendapat ulama-ulama lain seperti kebanyakan ulama Al-Azhar. Mungkin yang beredar sekarang mengikuti pendapat ini. Seperti itulah Islam, perbedaan pendapat adalah hal yang harus dimaklumi dan dihormati. Tidak perlu adanya caci maki antar sesama muslim hanya karena perbedaan doktrin. Lagi pula, pendapat yang bermacam-macam itu telah menempuh suatu ijtihad dan dilakukan oleh para ulama yang ahli dalam bidangnya.